KANKER NEUROENDOKRIN TAK MEMPAN DENGAN KEMOTERAPI, BARU BISA MENGECIL HINGGA BERSIH SETELAH TAMBAH ECCT MELEWATI 5 TAHUN

Kanker di leher Mas Roni cepat membesar setelah dibiopsi dan terus membesar meskipun sudah menjalani kemoterapi sebanyak 6X, menyebabkan batuk-batuk, sulit menelan dan panas dingin setiap malam. Ia pertama didiagnosa kanker awal 2021. Hasil biopsi mengarah ke jenis kanker neuroendokrin/limfoma non-hodkins difus (diferensiasi buruk). Awalnya ia tak ingin melanjutkan kemoterapi, tetapi atas saran dari konsultan ECCT supaya tetap melanjutkan kemoterapi karena massa yang sudah terlalu besar, ia melanjutkan kemonya setelah mulai pakai alat. Massa kankernya menyusut cepat hanya dengan sekali kemo setelah pakai alat dulu 2 bulan. Setelah kemoterapi siklus kedua selesai dan massa sudah memgecil, ia kemudian meneruskan hanya pakai alat untuk menuntaskan massa yang sisa hingga bersih dan melewati 5 tahun. 

Gambar: Dari kanan ke kiri: Hasil CT scan awal sebelum pakai alat setelah kemoterapi sebanyak 6X, hasil PET CT setelah pakai alat 6 bulan sambil kemoterapi, serta foto fisik sebelum, setelah 6 bulan hingga setelah 5 tahun pakai alat. 


***

Mas Roni dan isterinya awalnya menolak untuk tindakan medis dengan kemoterapi lagi karena setelah dibiopsi massa cepat membesar dan terus membesar meskipun sudah menjalani kemoterapi siklus pertama sebanyak 6X. Massa besar di leher kanannya menyebabkan batuk-batuk, sulit menelan dan panas dingin setiap malam.  Ia hanya ingin pakai ECCT saja, tidak ingin meneruskan proses kemoterapi mengikuti saran dokternya. 

Hasil CT scan menunjukkan massa ukuran hampir 10 cm, menekan pembuluh darah karotid komunis dan vena jugularis, pembuluh darah besar di leher kanan yang sudah terinfiltrasi massa. Hasil biopsi mengarah ke jenis kanker neuroendokrin/limfoma non-hodkins difus, sudah menginfiltrasi jaringan otot seran lintang (otot lurik), yaitu otot utama yang berfungsi untuk menggerakkan kepala dan leher termasuk otot-otot yang mengontrol gerakan leher secara keseluruhan, serta otot-otot yang lebih dalam yang terkait dengan menelan dan berbicara.  Dari hasil CT scan nampak juga gambaran penebalan pada area nasofaring kanan dan kiri. Massa di leher diduga merupakan hasil penyebaran dari nasofaring, sehingga masuk kategori stadium akhir. Untuk tindakan operasi tidak disarankan karena berisiko tinggi dan memicu penyebaran lebih luas disebabkan posisinya sudah menginfiltrasi otot leher serta adanya kemungkinan proses penyebaran dari tempat lain. 

Kanker ini adalah jenis kanker agresif yang berasal dari sel neuroendokrin yang tersebar di seluruh tubuh (paru-paru, pencernaan, dll.), tumbuh cepat, dan berpotensi menyebar, ditandai sel abnormal yang sulit dibedakan dari sel normal dan membutuhkan tes khusus untuk diagnosis. Gejalanya beragam tergantung lokasi, bisa termasuk masalah pencernaan, penurunan berat badan, kemerahan kulit, kelelahan, atau masalah pernapasan, dan sering kali sulit didiagnosis di awal karena mirip kondisi lain. Prognosa kanker neuroendokrin (NEC) berdiferensiasi buruk/difus umumnya buruk karena sifatnya yang agresif dan menyebar lebih cepat, lebih sulit diobati. 

Untuk kanker limfoma non-hodkins (Diffused Large B-Cell Lymphoma/DLBCL), jenis ini adalah jenis paling umum dari Limfoma Non-Hodgkin (NHL), kanker yang menyerang sistem limfatik (kekebalan tubuh) dan tumbuh cepat di kelenjar getah bening, limpa, sumsum tulang, atau organ lain, ditandai gejala seperti demam, keringat malam, penurunan berat badan (Gejala B), dan benjolan tanpa nyeri di leher, ketiak, atau selangkangan. Prognosa kanker limfoma jenis ini umumnya lebih baik dibanding kanker jenis NEC.

Mematikan sel kanker dengan ECCT relatif tak terlalu masalah, sel relatif cepat mengalami kematian terutama untuk grade tinggi. Tetapi sel mati yang terlalu banyak di dalam tubuh bisa menyebabkan beban tubuh terlalu berat akibat banjir sitokin yang merupakan protein yang diproduksi sel imun tubuh untuk mengatasi sel-sel mati.

Konsultan C-Care Riset menjelaskan bahwa untuk massa yang sudah terlalu besar kemungkinan tubuh tak akan mampu menyerap sel-sel mati dan bisa membuangnya melalui metabolisme tubuh secara alami. Karenanya perlu dilakukan intervensi medis agar tak terjadi peradangan kronis dengan kombinasi kemoterapi guna menekan respon imun. 

Mas Roni dan isterinya bisa menerima saran untuk pakai ECCT sambil tetap meneruskan prosedur medis oleh dokter onkologi yang memeriksanya di awal untuk tindakan kemoterapi. Ia memulai pakai alat selama 2 bulan sebelum melanjutkan proses kemoterapi siklus kedua sebanyak 6X selama 4 bulan sambil tetap pakai alat.

Benjolan segera menyusut signifikan setelah sekali kemo siklus kedua. Ia menyelesaikan kemonya hingga selesai 6X satu siklus sambil terus pakai alat. Hasil PET scan setelah 6 bulan menunjukkan benjolan di lehernya menyusut dari ukuran 10 cm tinggal menjadi 2-3 cm. Bagian tubuh lain relatif bersih, tak terdeteksi ada penyebaran. 

Mas Roni meneruskan pakai ECCT saja untuk menuntaskan benjolan yang masih sisa di lehernya hingga bersih. Setelah pemakaian 2 tahun dari sejak pertama kali mulai pakai alat benjolan di lehernya sudah tak teraba. Ia tetap pakai alatnya untuk preventif. 

5 tahun dari sejak pertama kali didiagnosa kanker kondisinya relatif normal. Berat badannya sudah kembali seperti semula sebelum sakit. Aktifitasnya normal. 

Semoga tetap sehat buat mas Roni (WS).

Comments