BENJOLAN DI PAYUDARA KANAN DAN KIRI, GINJAL DAN TIROID, TAK MAU OPERASI/BIOPSI, MELEWATI 12 TAHUN DENGAN ECCT.

2013 Bu Syane muncul benjolan cenderung ganas dan jinak besar dan kecil di payudara kiri. Karena tak mau biopsi maupun operasi ia hanya pakai ECCT sambil rutin melakukan pengecekan dengan USG, MRI dan modalitas radiologi lain baik yang sudah standar maupun yang baru. Benjolan hilang setelah pakai ECCT selama 2 tahun, sementara massa jinak relatif tak berubah. 3 tahun kemudian muncul benjolan di tiroid, 5 tahun kemudian muncul juga benjolan di ginjal, 8 tahun kemudian muncul juga di payudara kanan. Yang ia lakukan tetap sama: Tetap kalem, teruskan pakai alat, lakukan monitoring rutin. Setelah 12 tahun hasil monitoring rutin menyimpulkan: benjolan yang dicurigai ganas hilang dengan ECCT, yang jinak relatif tak berubah; Dan yang jelas kondisi umum Bu Syane selalu sehat dan aktif. 



Gambar: ATAS: Foto Bu Syane dalam kondisi sehat dan aktif serta gambar hasil mamografi  12 tahun sebelumnya sebelum pakai alat ECCT yang menunjukkan benjolan berkalisifikasi cenderung ganas; BAWAH dari kanan ke kiri:  Hasil USG massa pada dan kistik komplek multipel sebelum pakai ECCT, serta hasil scan USG dan MRI setelah pemakaian 1 dan 2 tahun yang menunjukkan massa semakin mengencil hingga tak terdeteksi. 


Terdeteksi benjolan di payudara kiri 12 tahun yang lalu, kemudian muncul juga di tiroid 3 tahun kemudian, dan di ginjal 5 tahun kemudian, juga di payudara kanan pasca vaksin covid 8 tahun kemudian, satu hal yang tidak ingin dilakukan oleh Bu Siyane adalah biopsi maupun operasi.

Lalu apa yang dilakukannya hingga kondisinya tetap sehat hingga sekarang? Bahkan benjolannya yang cenderung ganas bisa hilang?

Pakai alat ECCT saja tanpa biopsi ataupun operasi terhadap benjolan di payudara atau di bagian organ tubuh lain masih memungkinkan bisa hilang, tetapi tergantung jenis selnya. Secara umum untuk tipe sel dengan tingkat keganasan tinggi (grade 3—4) dan karakter sel mati yang meluruh sehingga bisa terserap oleh imun tubuh dan terbuang melalui ekskresi tubuh dalam bentuk urin, pup, keringat (kategori Grup B/C1 menurut klasifikasi respon ECCT), benjolan masih bisa hilang tanpa operasi, jaringan sekitar bisa pulih kembali normal. Hal ini adalah berdasarkan studi oleh Prof. Shinichiro Akiyama dkk yang dipublikasi di World Academy of Anti-Aging and Regenerative Medicine (WAARM) Journal tahun 2024.

Untuk tipe lain, seperti tipe yang terselubung selaput (kategori Grup A/E1) atau tipe keras/liat dengan komponen kolesterol/kalsium tinggi (kategori Grup D/C2), alat ECCT saja umumnya tak cukup, perlu kombinasi dengan operasi atau terapi medis standar untuk membuat benjolan hilang/bersih. Terutama untuk tipe sel dengan karakter IHK (imunohistokimia) hormon estrogen (ER) dan progresteron (PR) serta HER2 positif kuat, selain pakai alat konsumsi obat target untuk menekan faktor pemicunya tetap diperlukan.

Secara spesifik alat ECCT mempunyai respon yang baik untuk tipe sel dengan kategori Grup B/C1 dengan karakter ER, PR serta HER2 negatif (triple negative). Untuk tipe lain ECCT masih memungkinkan memberikan respon yang baik apabila ukuran benjolan masih relatif kecil (kurang dari 1—2 cm), tergantung posisi. Untuk ukuran relatif besar umumnya pembuangan sel-sel mati tidak bisa berjalan dengan baik dan tuntas, terutama untuk tipe selain B/C1 sel-sel mati yang tidak terbuang dengan baik akan menyisakan sel-sel yang berada dalam kondisi diam (dormant) di antara sel nekrosis, sehingga apabila faktor pemicu tinggi (ER, PR, HER2 positif kuat) akan mudah muncul kembali.

Lalu bagaimana bisa tahu karakter sel dan responnya kalau tak dilakukan biopsi dan cek IHK?

12 tahun yang lalu pemeriksaan IHK belum populer, demikian juga klasifikasi sel berdasarkan respon terhadap ECCT belum ada juga. Yang dilakukan Bu Siyane adalah rutin melakukan monitoring dengan radiologi secara tidak invasif dengan USG, mamografi, MRI bahkan dengan modalitas yang belum standar seperti thermografi dan ECVT (tomografi berbasis medan listrik). Dengan monitoring secara rutin kemungkinan terjadi perkembangan yang tidak diinginkan segera bisa terdeteksi dan diantisipasi.

Secara karakter berdasarkan hasil USG dan mamografi awal tipe sel yang dialami oleh Bu Siyane adalah termasuk kategori Grup E1, yaitu karakter tipe sel yang membentuk lesi-lesi kecil terselubung selaput yang bisa merembet dan menyebar ke organ lain. Tipe ini umumnya selaras dengan karakter HER2 positif, yang secara umum tidak merespon baik terapi medan listrik dengan ECCT. Penggunaan ECCT untuk tipe ini perlu dikombinasikan dengan obat target anti-HER2 untuk hasil terapi yang efektif.

Tetapi karena Bu Siyane tak melakukan biopsi maupun cek IHK, karakter sel yang dialaminya tidak bisa diketahui secara pasti. Bu Siyane memutuskan hanya pakai alat ECCT saja untuk benjolan di payudara kirinya yang cenderung ganas, dan juga untuk benjolan yang kemudian muncul di tiroid, ginjal dan payudara kanan. Yang ia lakukan adalah mengamati secara rutin, selama tak berkembang mengarah ke kondisi memburuk baginya cukup, ia merasa tak harus melakukan pendekatan yang agresif.

Respon yang dialami oleh Bu Siyane relatif lambat, sesuai dengan karakter tipe E1. Lesi di payudara kirinya relatif tak berubah selama setahun pertama, bahkan sedikit ada pembesaran dalam rentang waktu 3-6 bulan pertama. Yang ia lakukan adalah tidak panik, dan tetap menjalani prosesnya dengan tenang. Baru setelah 2 tahun hasil USG menunjukkan massa/lesi yang sudah tak terdeteksi lagi. Secara perabaan benjolan juga tak teraba.

Secara karakter tipikal lesi yang dialami oleh Bu Siyane adalah tipe yang tidak merespon baik ECCT. Pada akhirnya hasilnya baik dan benjolan bisa hilang, kemungkinan karena ukuran lesi relatif masih kecil-kecil (kurang dari 1-2 cm). Lesi yang kecil-kecil meskipun ada dalam jumlah multipel, imun tubuh masih bisa bekerja dengan baik, sehingga sel-sel mati masih bisa terbuang keluar tubuh dengan baik. Selain itu kondisi psikis dan hormon tubuh serta kadar kolesterol yang menyebabkan plak di pembuluh darah yang mengganggu pembuangan kemungkinan tetap terkontrol, hal itu menjadi faktor yang mendukung keberhasilan Bu Siyane.

Apabila aktivitas hormon tinggi dan kolesterol tinggi menyebabkan plak di pembuluh darah, pembuangan sel-sel mati tak bisa tuntas, ada sel-sel yang tetap diam dan tidak benar-benar mati, hal itu bisa memicu muncul kembali sewaktu-waktu. Seperti halnya yang dialami oleh Bu Siyane pasca vaksin covid-19 di mana benjolannya sempat muncul kembali yang kemungkinan disebabkan oleh pengendapan dan peradangan akibat infeksi/vaksin di area bekas massa yang sudah jadi jaringan parut. Tetapi benjolan Bu Siyane bisa hilang kembali dan kembali menjadi jaringan parut setelah pemakaian alat terus.

Benjolan di tiroid dan ginjal yang cenderung jinak relatif tak berubah dengan pemakaian alat hingga 9 dan 7 tahun. ECCT merespon lambat terhadap massa jinak, tetapi paling tidak menahan tak berkembang.

Dari kasus Bu Siyane bisa diambil pelajaran bahwa mengetahui tipe sel dari awal dengan biopsi dan cek IHK akan tetap membantu untuk melakukan assessment secara baik terkait karakter sel dan responnya terhadap terapi. Dengan diketahui tipe sel secara akurat bisa diprediksi kemungkinan terburuk yang mungkin bisa terjadi dan kapan terjadi serta outcome terbaik yang bisa dicapai dari kasus yang dihadapi. Kekhawatiran terhadap penyebaran saat melakukan biopsi bisa dicover dengan pemakaian alat sebelum dan sesudah biopsi.

Kombinasi dengan terapi standar medis disesuaikan dengan tipe sel tetap dianjurkan, dan secara umum memberikan statistik survival yang terbaik berdasarkan studi lain yang dilakukan oleh Prof. Akiyama dari McGill University, Canada yang dipublikasikan di Frontiers in Medical Case Reports (2025).

Comments