Didiagnosa kanker payudara stadium 2-3 tahun 2013
Bu Margareta terus mencari cara alternatif agar tak operasi hingga bertemu
dengan ECCT. Ia mulai pakai ECCT 2015, benjolan hilang dalam 1 tahun. Akan tetapi
10 tahun kemudian pasca covid dan vaksin benjolan muncul kembali di bekas massa
awal yang sudah berubah menjadi keloid. Ia kemudian hanya pakai alat ECCT lagi
hingga bersih lagi dan tinggal keloid.

GAMBAR: Paling kanan atas: Hasil mamografi dan USG tahun
2015 setelah terapi alternatif selama 2 tahun sebelum pakai alat ECCT yang menunjukkan
masih adanya benjolan di payudara kanan disertai retraksi yang semakin dalam
pada titik bekas operasi; Paling kanan bawah: Hasil scan ECVT pada
payudara kanan yang menunjukkan aktivitas listrik tinggi sebelum pakai ECCT dan
sebulan sesudah pakai yang menunjukkan penurunan aktivitas listrik; Tengah:
Hasil CT scan setelah pemakaian ECCT selama 1 tahun dan USG setelah 1.5 tahun yang
menunjukkan sudah tak terdeteksi nodulseperti pada hasil scan sebelum pakai
alat; Paling kiri: Foto Bu Margareta setelah 13 tahun sejak pertama
didiagnosa kanker payudara atau 11 tahun setelah pakai ECCT.
***
Sampai di Penang jauh-jauh terbang dari Tambolaka, Sumba, NTT Bu Margareta dibilangi oleh dokternya: "Sudah tidak ada lagi yang perlu dilakukan, Bu. Kankernya sudah tidak ada, tinggal keloid saja."
Akhirnya Bu Margareta menceritakan kalau selama ini ia pakai ECCT. Dokternya
melanjutkan: "Teruskan saja pakai alatnya."
Bu Margareta didiagnosa kanker payudara tahun 2013. Hasil USG dan mamografi nampak
ada benjolan di payudaranya sebelah kanan. Hasil biopsi tusuk jarum (FNAB)
menunjukkan keganasan. Dokternya menyarankan melakukan operasi mastektomi, dan
kemungkinan akan dilanjutkan kemo dan atau radiasi.
Bu Margareta tidak melanjutkan saran dokternya. Ia memilih terapi alternatif
selama 2 tahun. Ia menceritakan kalau kondisinya membaik dengan terapi
alternatif. Tetapi benjolannya tak hilang. Hasil USG dan mamografi setelah
terapi alternatif selama hampir 2 tahun menunjukkan masih ada benjolan di
payudara kanannya dengan ukuran 2-3 cm, lesi penyebaran kecil di aksila dengan
ukuran kurang dari 1 cm. Retraksi di bekas operasi dan bagian puting bertambah.
Secara stadium masih berada di stadium 2-3, relatif masih sama dengan 2 tahun
sebelumnya.
Secara umum dalam waktu 2 tahun perkembangannya bisa dibilang terkontrol.
Kanker payudara dengan tingkat keganasan sedang, apabila tidak diterapi
berdasarkan studi pemodelan, berkembang secara alami dari stadium 2 ke 3 dalam
waktu 18 bulan (1.5 tahun), dan dari stadium 3 ke 4 (metastasis) dalam waktu 9
bulan.
Ia terus mencari alternatif terapi untuk menghindari operasi hingga akhirnya
bertemu dengan ECCT. Ia terbang dari NTT ke Tangerang untuk mendapatkan alat
ECCT pada September 2015 dengan berbekal hasil pemeriksaan mamografi dan USG terbaru
serta hasil biopsi lama.
Respon kanker payudara dengan ECCT tergantung jenis sel dan tingkat keganasan,
berdasarkan hasil studi sel oleh Sahudi (2015). Semakin tinggi tingkat
keganasan sel (tingkat proliferasi), semakin cepat respon kematian sel dengan
ECCT. Semakin tinggi tingkat keganasan sel berkorelasi dengan semakin tinggi indeks
aktivitas listrik selnya berdasarkan hasil pengukuran aktivitas listrik dengan
ECVT pada pasien langsung pada tahun 2015. Hal itu disebabkan karena saat sel membelah
(mitosis), sel mengalami kenaikan tegangan listrik (voltase) tinggi saat
mitosis, sel seolah “berpijar,” bagian sel mengalami polarisasi listrik, muatan
listrik positif pada posisi kromosom menempel pada benang mikrotubula kinetokor
di area garis tengah sel yang sedang membelah, sementara muatan negatif pada
kedua kutub pembelahan (sentrosom) di area pinggir sel, kromosom ditarik oleh benang mikrotubula dari tengah-tengah sel ke arah
kedua kutub pembelahan dengan gaya tarik-menarik dan tolak-menolak
elektrostatis. Gaya elektrostatis yang terjadi sangat lemah di awal pembelahan,
tetapi meningkat tajam mendekati fase akhir pembelahan, sehingga mudah
dipengaruhi oleh medan listrik dari luar apabila masih berada pada fase awal
(sebelum fase telophase). Efek medan listrik lemah dari luar bisa menghambat
pemisahan kromosom, berefek pada
kegagalan membelah hingga kematian sel secara terprogram (apoptosis). Sel sehat
relatif tak membelah, sehingga relatif tak terpengaruh oleh medan listrik dari
luar. Sel dengan tingkat keganasan rendah aktivitas listriknya rendah, tingkat
pembelahan sel (proliferasi) rendah, sehingga tingkat pengaruh juga rendah.
Sel dengan tingkat keganasan tinggi yang gagal membelah mengalami kematian sel
secara sempurna (apoptosis), sel-sel mati bisa diserap dengan baik oleh sel
imun dan dibuang keluar tubuh dalam bentuk ekskresi seperti urin, keringat dan
feses yang berubah secara tajam baik warna dan bau. Sel dengan tingkat
keganasan rendah dengan kekuatan medan listrik yang sama tingkat kerusakan yang
dihasilkan pada sel lebih moderat, akibatnya sel hanya rusak sebagian, tingkat
kematian yang dihasilkan menjadi kurang sempurna, sel mengalami kematian secara
nekrosis (kerusakan paksa), dan umumnya reaksi pembuangan ekskresi sepert urin,
keringat dan feses tidak terlalu kelihatan.
Pengamatan reaksi pembuangan menjadi indikator yang mudah untuk mengamati
respon terapi dengan alat. Respon yang baik bisa terdeteksi dalam waktu 1-2
minggu atau bahkan 3-4 hari. Apabila reaksi pembuangan baik, maka bisa dijadikan
indicator bahwa karakter sel mempunyai tingkat keganasan tinggi. Pada umumnya
pembuangan yang baik akan diikuti oleh penyusutan massa yang relatif cepat
dalam waktu 3-4 bulan, alat bisa diteruskan hingga tuntas. Sebaliknya apabila
hingga setelah 2-3 minggu respon berupa reaksi pembuangan tetap tak terlalu
nampak, maka bisa diindikasikan bahwa karakter sel adalah sesuai dengan tingkat
keganasan rendah, umumnya ukuran massa tak mengalami perubahan signifikan meskipun
terapi terus dilanjutkan, atau ukuran massa bahkan bisa mengalami pembesaran
akibat terjadinya nekrosis (kematian paksa) yang tak terbuang dengan baik.
Reaksi
pembuangan yang dialami oleh Bu Margareta muncul pada urin, keringat dan feses
yang relatif lebih menyengat, tetapi tak terlalu ekstrim. Karakter pembuangan
sesuai dengan tipe kanker dengan tingkat keganasan sedang. Seiring dengan
reaksi pembuangan yang keluar, hasil USG menunjukkan ukuran benjolan yang
berkurang dari 2 cm menjadi 1 cm dalam waktu 1 bulan, tingkat penyusutan yang
relatif cepat, sesuai dengan karakter tingkat keganasan sedang ke tinggi. Hasil
scan ECVT yang menunjukkan indeks aktivitas listrik juga menurun dibanding
sebulan sebelumnya sebelum pakai alat. Hasil CT scan setelah setahun pemakaian
menunjukkan sudah tak nampak massa di parudara kanannya, retraksi pada bagian
bekas biopsi jarum masih ada tetapi berkurang, relatif lebih landai. Hasil USG
juga menunjukkan tinggal bekas bayangan pada posisi benjolan sebelumnya,
kemungkinan karena sel-sel mati yang berubah menjadi timbunan kolesterol yang
masih sisa. Secara fisik nampak keloid ringan pada area bekas biopsi jarum,
selebihnya kondisi payudara seolah kembali normal.
Bu Margareta tidak melakukan biopsi inti (core biopsy) dan pengecekan imunohistokima
(IHK) untuk mengidentifikasi faktor hormon dan karakter reseptor HER2, sehingga
tipe selnya dan faktor pemicunya tidak diketahui secara akurat. Karakter respon
sel kanker terhadap ECCT secara umum bisa diprediksi berdasarkan jenis sel,
tingkat keganasan dan reseptor positif hormon estrogen maupun progresteron
serta HER2. Reseptor hormon dan HER2 negatif (triple negative) dengan tingkat
keganasan tinggi (grade 3) secara umum adalah tipe dengan respon paling baik
dengan ECCT.
Tipe sel
dengan karakter hormon estrogen (ER) dan progresteron (PR) serta HER2 positif
kuat umumnya adalah tipe dengan respon terhadap terapi ECCT paling rendah.
Untuk tipe ini selain pakai alat perlu konsumsi obat target untuk memblokir
reseptor yang menjadi faktor pemicu pertumbuhan sel kanker. Reseptor hormon dan
HER2 adalah ligand-aktif, tidak seperti kanal ion yang bisa diblokir atau
diaktifkan oleh voltase listrik secara langsung. Untuk tipe hormon dan HER2
positif ECCT masih memungkinkan memberikan respon yang baik apabila tingkat
ekspresi relatif tidak kuat dan ukuran benjolan masih relatif kecil (kurang
dari 1—2 cm), tergantung posisi. Untuk ukuran relatif besar umumnya pembuangan
sel-sel mati tidak bisa berjalan dengan baik dan tuntas, sehingga apabila
faktor pemicu tinggi (ER, PR, HER2 positif kuat) akan mudah muncul kembali.
Untuk kasus yang tak ada data biopsi lengkap dan IHK seperti kasus Bu
Margareta, pengamatan reaksi pembuangan menjadi indikator yang cepat dan mudah.
Apabila pembuangan tidak terjadi dengan baik setelah 2-3 minggu bisa
disimpulkan bahwa tipe kanker bukan tipe yang respon baik dengan ECCT; akan
lebih bijaksana untuk segera membuat keputusan melakukan kombinasi dengan
terapi medis (operasi disertai kemoterapi/radiasi). Secara umum kombinasi
dengan operasi apabila memungkinkan setelah pemakaian 2-3 bulan untuk kasus
dengan tingkat ekskresi minimal akan mempercepat pencapaian remisi.
Selama lebih dari 10 tahun sejak pertama kali didiagnosa kanker Bu Margareta
hampir tidak pernah kelihatan sakit berat, kondisi umumnya relatif normal,
aktivitas sehari-harinya normal di apotek miliknya di Kota Kaleno Warno, Sumba
barat Daya. Ia tidak kelihatan tak pernah sakit. Ia sempat stop alat karena
dari hasil scan sudah tak nampak abnormalitas. Hanya ketika masa pandemi
beberapa lama setelah vaksin ia mulai merasakan ada perkembangan kembali di
bagian sekitar keloid pada bekas biopsi tusuk jarum. Hasil USG muncul kembali
benjolan. Karenanya ia mulai rutin lagi pakai alat ECCT kembali. Perlu waktu
kurang lebih setahun hingga massanya hilang kembali dan dinyatakan bersih lagi,
tinggal keloid. Dokter yang memeriksanya di Penang mengatakan tak perlu ada
tindakan yang dilakukan, ia disuruh meneruskan saja pakai ECCT untuk pencegahan
agar tak muncul kembali.
Melewati 13 tahun sejak pertama kali didiagnosa kanker payudara, atau 11 tahun
sejak pertama kali pakai ECCT Bu Margareta dalam kondisi sehat dan normal,
beraktivitas sehari-hari maupun traveling di dalam dan ke luar negeri tanpa
kendala. Semoga tetap sehat buat Bu Margareta (WS).
Comments
Post a Comment