Bu Soenaringsih didiagnosa kanker payudara stadium 3
tahun 2012, dengan tipe sel invasive lobular carcinoma (ILC) grade 1 dengan
karakter hormon ER- PR+ dan HER2-. Ia melakukan semuanya: terapi stadar dengan
operasi dan kemoterapi, lanjut pakai alat ECCT sambil konsumsi obat penurun
hormon hingga sekarang sudah hampir 14 tahun. Kondisinya sangat sehat di
usianya yang saat ini sudah hamper 80 tahun, efek samping obat anti hormon yang
ia konsumsi selama belasan tahun relatif tak terlihat. Kemungkinan manfaat pemakaian
alat ECCT jangka panjang yang ia pakai hingga sekarang berefek melancarkan
peredaran darah, membantu detoksifikasi sampah dan mencegah pengendapan obat yang
diminum sehingga tak berpengaruh pada fungsi fisiologis dan organ tubuh secara umum.
Kardiomegali (pembesaran jantung) dan infiltrat di paru-paru yang terjadi di
awal saat didiagnosa kanker yang umumnya bertambah dengan konsumsi obat
anti-hormon dan bertambahnya usia saat ini malah hilang kembali normal.

Gambar: Paling
kanan: Hasil lab patologi operasi yang menunjukkan kanker payudara ganas tipe invasive
lobular carcinoma grade 1 dengan karakter ER-, PR+ dan HER2-; Hasil scan
aktivitas listrik mamae dengan ECVT pada bekas operasi yang menunjukkan masih nampak
aktivitas tinggi (abnormal) dan hasil scan aktivitas listrik mamae setelah
pemakaian alat ECCT 2 bulan yang menunjukkan gambaran aktivitas listrik normal;
Tengah dan Kiri: Foto Bu Soenariningsih yang setelah 7 tahun dan 14 tahun yang
nampak sehat dan normal.
***
Terapi standar untuk kasus kanker payudara jenis Invasive Lobular Carcinoma (ILC) Grade 1 dengan karakteristik ER negatif (ER-), PR positif (PR+), dan HER2 negatif (HER2-) yang termasuk dalam kelompok kanker payudara jenis Luminal A sudah cukup mapan dengan tingkat efikasi yang cukup tinggi, angka harapan hidup 5 tahun berkisar antara 80% hingga 90%, dan untuk 10 tahun sekitar 60% hingga 70%. Tetapi jika tumor lebih besar atau sudah terjadi penyebaran ke kelenjar getah bening lebih luas (stadium 3 atau lebih), angka harapan hidup 5 tahun berada di kisaran 40% hingga 60% (droracle.ai, 2026).
Buat Bu Soenariningsih angka statistik itu taka da artinya. Ia juga tak pernah mencarai tahu berapa persen chance dia bisa survive dari kanker berdasarkan bukti ilmiah. Yang ia pikirkan adalah bagaimana ia cepat terbebas dari kanker dan bisa tetap hidup sehat, tanpa terbelenggu oleh efek samping yang sering tak kalah berat dari penyakit yang dihadapi itu sendiri. Hal itu kemungkinan yang melandasi ia memutuskan untuk pakai alat ECCT.
Kanker dengan karakter reseptor hormon ER-, PR+ dan HER2-, subtipe ini menyerupai tipe Luminal A namun dengan komponen reseptor estrogen yang negatif. Terapi obat anti-hormon (terapi endokrin) tetap menjadi andalan, namun responsnya mungkin sedikit berbeda dibandingkan tumor yang sangat positif terhadap kedua reseptor (ER+ dan PR+). Jenis Lobular Carcinoma Grade 1 kanker payudara tipe ini biasanya tumbuh lebih lambat, memiliki tampilan sel yang sangat teratur (berdiferensiasi baik), dan memiliki sifat yang kurang agresif dibandingkan kanker dengan grade tinggi. Secara prosedur operasi, kemoterapi (jika diindikasikan), dan perawatan anti-hormon merupakan standar penanganan untuk menekan risiko kekambuhan jangka panjang untuk tipe ini.
ECCT adalah terapi non-invasif yang dikembangkan di Indonesia dengan memanfaatkan medan listrik statis berintensitas dan frekuensi rendah (di bawah 30 Watt) untuk menghambat pembelahan sel kanker dan memicu kematian sel secara terprogram (apoptosis).Tipe dan Grade Kanker: Invasive Lobular Carcinoma (ILC) dikenal tumbuh lebih lambat, biasanya invasif, dan memiliki karakteristik biologis yang spesifik. Penelitian saat ini menunjukkan bahwa sel kanker merespon ECCT tergantung pada polarisabilitasnya. Sel dengan tingkat keganasan (grade) yang tinggi cenderung merespons lebih cepat, sementara sel dengan tingkat keganasan yang lebih rendah atau lambat membelah merespon dengan durasi yang lebih lama.Mengingat tingkat keamanannya yang baik, secara umum bisa dikatakan ECCT cocok untuk perawatan komplementer bersama perawatan jangka panjang dengan obat anti-hormon.
Bu Soenariningsih melakukan terapi standar dengan operasi dan kemo serta perawatan lanjutan dengan obat anti-hormon sesuai yang dianjurkan oleh dokternya. Ia juga minta dibuatkan alat ECCT dan memakainya mulai tahun saat pengembangannya masih sangat awal. Ia melakukan semuanya yang ia anggap logis dengan harapan bisa mencapai tingkat survival yang lebih baik, karena tak ada cara yang menjamin capaian 100% secara lmiah dan masuk akal. Kalau ada yang 100%, itu bukan ilmiah. Suaminya meninggal 10 tahu yang lalu karena kanker kelenjar getah bening hanya selang 2 minggu setelah operasi dan masih dalam perawatan di rumah sakit. Suaminya belum sempat mendapatkan terapi kemo, dan belum sempat pakai alat ECCT juga. Hal itu juga kemungkinan yang membuat Bu Soenariningsih tidak mau melepas alat ECCT sampai sekarang, sambil terus mengkonsumsi obat anti-hormon estrogen yang diberikan oleh dokternya.
Di usia 79 tahun kondisinya bisa dibilang sangat sehat dan aktif. Ia masih bisa melakukan perjalanan naik bus dari Semarang ke Jakarta bolak-balik sendirian. Ibu yang profesi saat masih aktif sebagai bidan ini sehari-hari melakukan aktivitas memimpin paduan suara yang terdiri dari 20 orang di gereja dan mengajar musik ke anak-anak.
Ia tidak merasakan efek samping dari obat anti-hormon yang dikonsumsi sampai belasan tahun seperti osteoporosis dan patah tulang, nyeri sendi dan otot, peningkatan kolesterol jahat (LDL) yang memicu resiko penyakit jantung, serta kelelahan ekstrem, gangguan tidur (insomnia), penipisan rambut dan penambahan berat badan tak terkontrol akibat dampak metabolik jangka panjang dari penurunan estrogen.
Pengguanaan ECCT dalam jangka panjang yang berefek pada kelancaran peredaran darah, pembersihan sampah yang mengedap di saluran seperti pencernaan dan organ kemungkinan berefek positif menutupi efek samping dari obat penurun estrogen. Bahkan kardiomegali (pembesaran jantung) dan infiltrat di paru-paru yang nampak dari hasil X-ray di awal saat didiagnosa kanker yang umumnya bertambah dengan bertambahnya usia dan ditambah efek samping dari konsumsi obat anti-estrogen jangka panjang saat ini malah hilang, jantung dan paru-parunya kembali normal.
Ia masih naik motor sendiri dalam aktivitas sehari-hari di kota Semarang bahkan sampai bagian atas kota yang relatif tinggi. Ia mengkhawatirkan karena usianya sudah mencapai 80 tahun di tahun depan ia tidak mendapatkan lagi izin mengendarai motor. Semoga tidak terjadi, dan semoga tetap sehat buat Bu Soenariningsih (WS).
Comments
Post a Comment