Di usia 81 tahun Bu Koesniyah didiagnosa kanker ganas stadium akhir yang sudah menyebar ke paru-paru. Hasil biopsi pada benjolan di leher kirinya menunjukkan tipe limfoma non-hodkins (LNH). Hasil CT scan menunjukkan benjolan yang bersepta-septa memenuhi leher kanan dan kirinya, terutama bagian kiri. Hasil rontgen thorax juga sudah menunjukkan adanya nodul di paru-parunya sebelah kanan. Kondisinya didorong di kursi roda karena motorik kanan lemah, belum ada pemeriksaan terkait kemungkinan penyebaran ke otak. Karena faktor usia Bu Koesniyah tidak menjalani kemo, satu-satunya alternatif saat itu hanya pakai ECCT. Kondisinya berangsur membaik, benjolan semakin melunak hingga tak teraba. Kondisinya sehat dan relatif aktif di usianya yang sudah 84 tahun di Juni 2026.

Gambar 1: Dari kanan ke kiri: Foto benjolan Bu Koesniyah di area mandibula yang meluas hingga ke leher sebelum pakai alat, hasil biopsi menunjukkan massa jenis limfoma non-hodkins; serta foto bagian leher 2 minggu, 2 bulan dan 1 tahun setelah pakai alat ECCT yang menunjukkan gambaran massa semakin melunak dan mengecil, tanpa disertai radang dan gambaran kulit sekitar yang semakin normal; Paling kanan: Foto Bu Koesniyah setelah 2.5 tahun (16/10/2025) pakai alat yang menunjukkan kondisi sehat dan relatif aktif.
Gambar 2: Dari kanan ke kiri: Hasil CT scan bagian leher yang menunjukkan lesi di kanan dan kiri kelenjar getah bening di bagian leher coli sebelum pakai alat ECCT (17/6/2023), hasil foto X-Ray yang menunjukkan gambaran lesi di paru-paru yang kemungkinan disebabkan oleh adanya penyebaran (22/5/2023), serta hasil CT scan setelah 1 tahun dan 1.5 tahun yang menunjukkan gambaran lesi di leher maupun di paru-paru yang semakin mengecil.
***
Di usia 81 tahun 3 tahun yang lalu Bu Koesniyah didiagnosa kanker ganas stadium akhir yang sudah menyebar ke paru-paru. Benjolan meradang di leher kanan dan kirinya. Bicaranya sedikit, tidak seperti biasanya yang cenderung banyak bicara dan keras.
Hasil biopsi pada benjolan di leher kirinya menunjukkan tipe limfoma non-hodkins (LNH). Bekas biopsinya belum kering, masih sering mengeluarkan darah.
Hasil CT scan menunjukkan benjolan yang bersepta-septa memenuhi leher kanan dan kirinya, terutama bagian kiri. Hasil rontgen thorax juga sudah menunjukkan adanya nodul di paru-parunya sebelah kanan. Kondisinya didorong di kursi roda karena motorik kanan lemah, belum ada pemeriksaan terkait kemungkinan penyebaran ke otak.
Ia merasa malu kalau bertemu dengan teman-temannya karena lehernya bengkak. Tentu saja rasa malu yang terlalu mewah, karena seharusnya ia lebih khawatir terhadap kankernya yang bisa berakibat fatal. Terutama karena usianya sudah cukup lanjut, pilihan terapi menjadi sangat terbatas, ditambah Bu Koesniah sendiri juga ada penyakit bawaan (komorbiditas), sempat kena batu empedu, sirosis hati karena hepatitis A dan pneumonia.
Prognosis pada kasus Bu Koesniyah tergolong berat. Usia lanjut, kanker limfoma stadium IV (menyebar ke paru-paru), ditambah komplikasi infeksi paru (pneumonia) serta penyakit penyerta berupa sirosis dan batu empedu, secara signifikan dapat menurunkan toleransi terhadap pengobatan kuratif dan harapan hidup.
Penyebaran kanker ke paru-paru mengindikasikan Limfoma Non-Hodgkin (LNH) Stadium Akhir (Stadium IV). Hal ini dapat memperberat kondisi pneumonia, menyebabkan sesak napas, dan memerlukan penanganan segera untuk mengontrol pertumbuhan sel kanker serta mengatasi infeksi paru tersebut. Toleransi tubuh lansia terhadap terapi agresif seperti kemoterapi standar cenderung lebih rendah dan berisiko memicu komplikasi atau toksisitas. Kerusakan fungsi hati pada sirosis membuat metabolisme obat (termasuk obat kemoterapi atau obat infeksi) menjadi lebih sulit dan berisiko tinggi. Infeksi atau peradangan pada paru-paru yang terjadi bersamaan dengan kanker sangat membebani sistem pernapasan dan imunitas tubuh.
Tim dokter multidisiplin (biasanya terdiri dari dokter spesialis onkologi dan penyakit dalam) harus menyeimbangkan antara agresivitas terapi kanker dan kualitas hidup pasien (perawatan suportif/paliatif). Perawatan suportif sangat krusial, seperti pemberian antibiotik untuk pneumonia,
transfusi jika diperlukan, manajemen nyeri untuk batu empedu, dan obat pelindung hati. Untuk LNH, secara umum dokter mungkin mempertimbangkan kemoterapi dosis ringan, terapi target, atau terapi kortikosteroid. Pemilihan terapi disesuaikan dengan status fungsional pasien secara keseluruhan (Performance Status).
Dokternya tak menyarankan kemoterapi karena faktor usianya. Keluarganya juga tidak menghendaki Bu Koesniyah menjalani kemo. Satu-satunya alternatif saat itu hanya ECCT. Secara umum kanker dengan tingkat keganasan tinggi merespon baik terhadap ECCT, sel mengalami kematian secara cepat. Apabila pembuangan berjalan dengan lancar, massa kanker meluruh dalam hitungan hari atau minggu, ditandai reaksi pembuangan yang ekstrim seperti buang air besar yang berwarna gelap/hitam, bau sangat menyengat, serta urin dan pembuangan lain yang bau sangat menyengat, benjolan berangsur melunak dan mengecil dalam hitungan hari atau minggu. Jenis LNH seperti yang dialami oleh Bu Koesniyah adalah tipe limfoma dengan keganasan tinggi (agressif), merespon cepat terhadap ECCT; Karakter sel matinya yang relatif lunak (kandungan kalsium rendah, komponen kolesterol rendah) membuat sel-sel mati meluruh dan bisa terserap oleh sistem imun tubuh dan terbuang keluar melalui eksresi tubuh secara baik; Massa tumor bisa melunak dan mengesil dalam hitungan hari atau minggu.
Karakter sel mati jenis LNH berbeda dengan tipe dengan tingkat agresifitas lebih rendah seperti limfoma Hodkins klasik yang kandungan kolesterolnya relatif tinggi sehingga lebih sulit terserap oleh imun tubuh, mudah terjadi pengendapan dan menyebabkan peradangan. Dari pengamatan umum, peradangan berketerusan adalah salah satu faktor krusial yang bisa mempengaruhi perkembangan kanker, menyebabkan kondisi kanker yang naik turun, sulit mencapai kondisi remisi atau progression free. Untuk tipe dengan agressifitas rendah terapi ECCT umumnya perlu tetap dibantu dengan terapi standar dengan kemo guna menekan peradangan. Pemberian kemo setelah 2-3 bulan pemakaian ECCT untuk tipe limfoma klasik umumnya cepat menekan peradangan, penyusutan ukuran massa bisa berlangsung secara signifikan hanya dengan 1-2X kemo pertama.
Karakter agresif yang dialami oleh Bu Koesniyah memberi keuntungan sendiri dengan terapi ECCT, sel kanker bisa mengalami kematian secara cepat, sementara beban tubuhnya untuk menyerap dan memproses sel mati relatif ringan, usianya yang sudah di atas 80 pun masih memungkinkan mengatasinya. Ia dibuatkan alat ECCT yang berupa selimut dan helm menutup seluruh tubuh hingga kepala karena kondisi penyebarannya serta mempertimbangkan kemungkinan penyebaran yang lebih luas.
Di awal ia hanya kuat pakai alat 15 menit pagi dan sore selama 2 minggu. Ia sempat mengeluh karena rasa panas terutama di area benjolan di lehernya, perut kembung karena banyak gas, batuk dan rasa pegal yang sangat di kaki kiri serta kepala pusing saat pakai alat. Efek "sel kanker pecah seketika" saat pakai alat bisa menyebabkan pusing dan rasa sakit, dan efek detok sel mati yang menumpuk di dalam tubuh bisa mengganggu, menyebabkan batuk, kembung atau kebas di tangan atau kaki, sebelum akhirnya keluar dalam bentuk gas, urin, dahak dan feses.
Tetapi secara umum perkembangannya cukup cepat, seiring dengan reaksi pembuangan yang keluar dengan baik. Benjolan di lehernya mulai mengedur dan mengecil dalam 2 minggu, luka bekas biopsi mengering, radangnya berkurang. Reaksi pembuangan yang lancar sangat penting dalam proses terapi dengan ECCT untuk bisa mencapai tuntas. Penumpukan sel-sel mati yang tak keluar selain menyebabkan berbagai macam keluhan bisa mengakibatkan radang kronis yang apabila berketerusan akan memicu balik perkembangan sel tumor. Untuk kasus yang reaksi pembuangan tidak keluar dengan baik mau tidak tetap perlu bantuan prosedur medis seperti kemoterapi, radiasi atau operasi.
Bersyukur Bu Koesniyah mengalami reaksi pembuangan yang lancar, benjolan semakin mengecil, radang juga semakin hilang. Hanya ia sempat mengalami kemunculan benjolan baru pada leher kanannya yang awalnya sudah hampir bersih. Kemungkinan hal itu dipengaruhi oleh kondisi imun tubuhnya yang naik turun mengingat usianya yang sudah lanjut. Benjolan di lehernya baru benar-benar hilang setelah pemakaian alat kurang lebih 2 tahun.
Bulan Mei 2026 Bu Koesniyah melewati 3 tahun sejak pertama kali terkena kanker limfoma stadium 4. Kondisinya relatif normal dan sehat. Ia masih suka aktif di medsos membaca dan mengirim pesan WA, menonton video di Youtube, mengikuti pengajian rutin, berkumpul dengan teman dan keluarga, beraktivitas fisik seperti jalan kaki, cuci piring dan beberes rumah.
Di usianya yang sudah 84 tahun memorinya masih sangat bagus, hafalannya kuat, masih bisa berdebat membahas isu politik maupun ekonomi di dalam dan luar negeri. Alat ECCT terus dipakainya selain untuk mencegah munculnya kanker kembali juga menjaga peredaran darah tetap lancar, mencegah sumbatan di pembuluh darah di organ, jantung maupun otak, menjaga daya ingat tetap baik.
Semoga tetap sehat buat Bu Koesniyah (WS).
Comments
Post a Comment