BERDAMAI DENGAN KANKER OTAK MELEWATI 14 TAHUN, MENGGUNAKAN ECCT
Didiagnosa kanker otak 14 tahun yang lalu Bu Melly merasakan sakit kepala ekstrim seperti dipukul dengan palu atau kampak, tak bisa melihat, kehilangan pendengaran, dan mengalami amnesia berat hingga tidak mengenali rumah dan anak-anaknya sendiri. Dokternya mengatakan kemungkinan tak akan bertahan lebih dari 4 bulan apabila tak segera dioperasi. Hasil MRI Desember 2012 menunjukkan gambaran kanker ganas jenis low grade astrocytoma di posisi otak sebelah kiri dengan ukuran 3X3X2 cm. Karena resiko memori dan fungsi komunikasi yang tak kembali secara permanen suami Bu Melly bersikeras untuk tak melakukan operasi, memutuskan menggunakan ECCT sebagai upaya alternatif. Keajaiban demi keajaiban terjadi, hingga kini ia telah bertahan lebih dari 15 tahun lamanya "menidurkan" kanker di otaknya dengan ECCT, berhasil melewati masa-masa kritis dan kembali pulih secara normal.
Gambar: ATAS: Foto fisik Bu Melly (2022) saat melewati 10 tahun
dari sejak pertama kali didiagnosa dalam kondisi normal dan aktif hingga saat
ini (2026), serta perbandingan hasil scan MRI (2012) dan ECVT (2013) milik Bu
Melly saat sebelum terapi; TENGAH: Hasil MRI dan CT scan sebelum dan sesudah terapi
ECCT yang menunjukkan massa menyusut secara perlahan; BAWAH: Hasil scan otak
dengan ECVT yang menunjukkan aktivitas listrik otak yang berangsur pulih menjadi
normal sejalan dengan proses terapi.
***
14 tahun yang lalu Ibu Melly sempat tak bisa melihat, kehilangan pendengaran, dan mengalami amnesia berat hingga tidak mengenali rumah, mobil, bahkan anak-anaknya sendiri. Diagnosis dokternya berdasarkan hasil MRI menyatakan adanya kanker ganas di otaknya sebelah kiri, mengatakan kemungkinan sisa harapan hidup hanya 4 bulan jika tidak segera menjalani operasi bedah otak.
Tentu saja ia tak bisa berpikir apa-apa terkait apa yang harus dilakukan, harus operasi atau bagaimana, selain karena tak ingat apa-apa, yang ia rasakan hanyalah kepala hebat seperti dihantam palu atau kapak. Kaki dan badannya sebelah kanan terasa lemah, tak bisa digerakkan. Hasil MRI Desember 2012 menunjukkan gambaran kanker ganas jenis low grade astrocytoma di posisi otak sebelah kiri dengan ukuran 3X3X2 cm.
Suami Bu Melly yang seorang pengacara, Pak Rozi, bersikeras untuk tak melakukan operasi meskipun vonis dokter mengatakan tak akan bertahan lebih dari 4 bulan. Tentu saja umur tak ada seorang pun yang tahu. Ia membatalkan operasi dan terus mencari alternatif untuk tidak operasi hingga memutuskan menggunakan ECCT, terapi non-invasif menggunakan helm khusus berteknologi electro-capacitive. Entah dilatari oleh faktor kepasrahan penuh kepada Allah disertai dengan kekuatan zikir Pak Rozi sambil terus mendampingi Bu Melly memakai helm ECCT, keajaiban demi keajaiban terjadi, hingga kini Bu Melly telah bertahan melewati 15 tahun lamanya "menidurkan" kanker di otaknya, berhasil melewati masa-masa kritis dan kembali pulih secara normal.
Astrositoma
derajat rendah (low-grade astrocytoma) yang tumbuh lambat di daerah
peralihan gyrus frontalis medius dan inferior lobus frontalis
kiri—yang meliputi area Broca dan korteks premotor—dapat memicu efek klinis
berupa gangguan berbahasa (disfasia/afasia ekspresif), penurunan
fungsi eksekutif, dan kejang. Kerusakan atau kompresi pada area ini
bisa mempengaruhi kemampuan dan kelancaran berbicara. Penderita mungkin
mengalami kesulitan menemukan kata yang tepat, berbicara terbata-bata (afasia
ekspresif), atau penurunan kelancaran verbal secara signifikan seperti yang
dialami oleh Bu Melly.
Bagian ini juga
mengendalikan gerakan kompleks yang berkaitan dengan bicara (serta gerakan
motorik tubuh kontra lateral), sehingga lesi di daerah ini dapat mengganggu
koordinasi otot wajah dan lidah yang dibutuhkan untuk artikulasi. Meskipun
astrositoma derajat rendah biasanya tidak memiliki edema vasogenik (pembengkakan
jaringan) akut, keberadaan massa pada posisi ini dapat mengganggu fungsi
kognitif seperti perencanaan, memori kerja, fleksibilitas mental, pemecahan
masalah, dan pengendalian impuls. Bu Melly tidak hanya merasakan sakit yang luar
biasa, secara perlahan kankernya juga memakan memorinya hingga ia tak ingat
rumah dan anak-anak sendiri.
Ia tidak sampai
mengalami kejang, tetapi kejang adalah gejala neurologis paling umum pada
pasien dengan low-grade glioma (sekitar 95 % kasus). Iritasi sel-sel
saraf akibat penumpukan cairan di sekitar tumor yang tumbuh perlahan sering
memicu kejang fokal, yang terkadang bisa berkembang menjadi kejang umum. Kejang
ini sering menjadi satu-satunya tanda atau gejala fisik sebelum tumor
didiagnosis lebih lanjut. Dibandingkan tumor ganas grade tinggi (seperti
glioblastoma), astrositoma derajat 1 atau 2 tumbuh infiltratif namun memberikan
efek massa tekanan pada jaringan sekitar dan edema minimal. Gejala
akibat peningkatan tekanan intrakranial—seperti sakit kepala yang memburuk di
pagi hari atau mual—biasanya terjadi belakangan atau jika tumor telah membesar
secara signifikan.
Karena tumor
ini berkembang secara perlahan, jaringan otak di sekitarnya sering kali
melakukan adaptasi dengan memindahkan fungsi bahasa dan motorik ke area bagian otak
di sekitarnya yang masih sehat (efek plastisitas adaptif). Hal ini memungkinkan
penderita tidak mengalami gangguan berat atau kelumpuhan yang mendadak.
Tipe astrositoma dengan tingkat keganasan rendah (low grade) secara umum tak terlalu respon dengan radiasi maupun kemo, operasi adalah cara umum yang dilakukan untuk kasus tipe ini. Hanya karena posisinya berada pada area otak yang mengatur fungsi Bahasa, tindakan operasi reseksi total bisa berefek terhadap gangguan fungsi bahasa secara permanen, ingatan dan bicaranya bisa tak kembali selamanya. Sementara reseksi parsial, dengan harapan efek plastisitas saraf bisa membantu mengembalikan fungsi bicara dan memori yang menurun, akan beresiko tinggi terjadi rekurensi dan perembetan sel tumor ke jaringan sekitar, dan akhirnya berakhir dengan tindakan operasi yang berulang.
Sesuai dengan prediksi awal keluhan yang dialami oleh Bu Melly relatif cepat hilang setelah pakai ECCT dalam waktu kurang dari 3-6 bulan. Sakit yang menghunjam seperti dipukul dengan palu dan kapak relatif berkurang dalam hitungan minggu, memori dan bicaranya mulai kembali setelah 1-2 bulan. Hanya hasil scan MRI massa tumornya relatif tak berubah, setelah pemakaian ECCT selama 1 tahun dan 2 tahun ukuran massa relatif sama. Efek ECCT terhadap efek plastisitas saraf dan menurunkan penekanan intrakranial kemungkinan jauh lebih cepat dibanding mengencilkan massa itu sendiri.
Berbeda dengan hasil scan MRI, hasil scan aktivitas listrik otak dengan ECVT lebih berkorelasi dengan aktivitas saraf otak. Aktivitas listrik yang rendah di bagian kortek (permukaan otak) sebelah kiri di sekitar posisi massa yang Nampak sebelum terapi ECCT, berubah menuju normal dalam waktu yang relatif cepat (kurang dari 6 bulan). Aktivitas listrik otak kemungkinan lebih berkorelasi dengan efek plastisitas saraf otak, lebih bersifat fungsional daripada fisik jaringan otak itu sendiri (Lihat gambar hasil scan ECVT di atas).
Setelah pemakaian selama 5 tahun ukuran massa tumor Bu Melly baru berkurang sebagian, bekas massa tumor masih nampak, tidak benar-benar hilang. Akan tetapi meskipun massa tumor tak benar-benar hilang selama pakai alat rutin keluhan sakit kepala dan badan yang awalnya lemah terutama di sebelah kiri sudah tak terasa lagi, keluhan umum lainya yang ia rasakan di awal sudah hilang.


Comments
Post a Comment