TUMOR TIROID BESAR MENYEBABKAN SUARA HILANG BERBULAN-BULAN, SUARA KEMBALI 2 MINGGU, BENJOLAN HILANG SETELAH 1 TAHUN TANPA OPERASI
Pak Yunanto merasakan benjolan di tiroid mulai terjadi akhir 2019, benjolan terus membesar dengan cepat mencapai hingga ukuran 5 cm di tiroid kiri dan menyebabkan suara hilang awal 2020. Alternatif yang diberikan oleh dokternya hanya operasi dengan resiko pita suara terpengaruh hingga suara tak akan kembali selamanya, di samping harus melakukan pengangkatan tiroid kanan juga apabila ditemukan ganas, dilanjutkan dengan radiasi dan kemoterapi serta konsumsi obat pengganti hormon tiroid seumur hidup. Secara medis tak ada opsi lain. Ia mencoba alternatif dengan ECCT. Suaranya kembali setelah 2 minggu, benjolannya hilang setelah setahun tanpa bekas.
Pak Yunanto sempat tak bisa keluar suara selama berbulan-bulan di awal 2020 akibat massa tumor di tiroidnya. Kalau dioperasi ada resiko suaranya tak akan kembali selamanya, karena massa tumor sangat dekat atau sudah menempel ke pita suara. Semua dokter yang ditemuinya tak memberinya opsi selain operasi.
Ia terus mencari cara tidak adakah alternatif selain operasi? Di saat sedang kebingungan ia tak percaya ketika saat konsul pertama kali untuk pakai ECCT dibilang: "Kemungkinan suara bisa keluar lagi setelah 2-3 minggu."
"Too good to be true," pikirnya secara masuk akal.
Pak Yunanto merasakan pertama kali muncul benjolan akhir 2019. Suaranya relatif masih normal. Tetapi memasuki tahun 2020 benjolan cepat membesar dan relatif keras, hingga menyebabkan suaranya menghilang perlahan seiring dengan membesarnya benjolan di lehernya. Hasil USG tiroid menunjukkan massa kistik dengan ukuran cukup besar mencapai 5 cm di tiroid sebelah kiri dengan karakter echo (bayangan padat) di dalamnya. Massa sudah mendorong trakea ke arah kanan.
Ia tak pernah melakukan biopsi, sehingga tak bisa memastikan apakah ganas atau tidak. Dokternya mengatakan dua-duanya bisa terjadi, setelah operasi baru bisa tahu kepastian ganas atau jinaknya; Kalau ganas tiroid sebelah kanan juga harus diangkat, selanjutnya masih perlu dilakukan tindakan kemoterapi dan radiasi, dan juga konsumsi obat pengganti hormon seumur hidup.
Kembali dan tidaknya suara bukanlah faktor yang menjadi pertimbangan utama. Itu termasuk ongkos atau resiko yang harus dibayar untuk mengatasi keganasan, karena keganasan efeknya bisa fatal. Seperti halnya yang sering disebut terkait efek samping dari kemoterapi yang bisa mengakibatkan rambut rontok; Secara pertimbangan medis rambut rontok adalah resiko ringan dibanding efek fatalitas kalau keganasan tidak bisa diatasi, karena tidak ada yang lebih penting dari menghindari fatalitas.
Walaupun begitu tidaklah mudah bagi Pak Yunanto menimbang mana yang lebih ringan antara suara yang sedang hilang dan tidak akan pernah kembali atau kefatalan yang masih belum bisa dibayangkan akan benar-benar terjadi.
Tentu saja ia kaget tak percaya saat sedang kebingungan mempertimbangkan apakah ia harus mengambil langkah operasi seperti yang disarankan oleh dokternya dengan resiko suara tak akan pernah kembali, ia dibilang "angin sorga" ada cara alternatif tanpa operasi untuk menghilangkan kankernya dan "suaranya bisa kembali dalam 2-3 minggu."
Suaranya memang BENAR keluar lagi setelah pemakaian ECCT 2-3 minggu, tepatnya setelah pemakaian 15 hari selama 3 minggu (ada jeda istirahat selama 2 hari setiap minggu). Suatu kebahagiaan yang luar biasa karena suaranya tak keluar sama sekali selama berbulan-bulan. Pertama keluar suaranya masih serak dan lirih, baru kembali normal setelah 2-3 bulan pemakaian.
Pak Yunanto tak pernah melakukan biopsi, sehingga tipe sel dan karakter responnya terhadap ECCT tak bisa diprediksi dari awal secara akurat mengandalkan hanya hasil gambar USG. Hanya ada kaedah umum terkait respon ECCT yang secara empiris cukup akurat: "Apabila reaksi pembuangan berjalan baik, umumnya progres berjalan bagus, perbaikan bisa kelihatan dalam 2-3 minggu."
Karena ingin membuktikan kebenaran "janji" itu, Pak Yunanto mulai mencatat secara sangat detail setiap hari terkait pemakaian alat, apa yang ia makan, reaksi apa yang keluar seperti urin, keringat, feses, dahak, dan gas, serta perkembangan yang ia rasakan termasuk suaranya dari sejak hari pertama ia pakai alat.
Reaksi yang muncul yang ia rasakan adalah urin yang keruh dan relatif berbau menyengat, feses gelap dan bau menyengat kurang lebih berlangsung selama 2 minggu awal pemakaian. Karakter reaksi demikian umumnya terjadi untuk kasus ganas dengan tingkat keganasan sedang ke tinggi, dan tidak terjadi pada kasus kista sederhana dengan pakai ECCT.
Pak Yunanto merasakan suaranya lebih cepat kembali dibanding dengan penyusutan ukuran benjolan di lehernya. Ia baru merasakan ukuran benjolannya mulai menyusut setelah 2-3 bulan pemakaian. Ia masih merasakan ganjalan saat menelan hingga 3 bulan pemakaian.
Setelah 6 bulan pemakaian ukuran benjolannya mengecil menjadi sekitar 2 cm dari awalnya 5 cm. Setelah 12 bulan benjolannya masih nampak sedikit, dan baru benar-benar hilang/tak terlihat atau teraba setelah 15 bulan. Karakter respon demikian lebih cenderung mengarah ke tipe keganasan sedang ke tinggi, dibanding karakter jinak.
Selama pemakaian alat kondisi umum Pak Yunanto relatif normal, tak ada keluhan terkait gangguan hormon tiroid. Setelah 7 tahun sejak pertama kali pakai alat ECCT kondisinya normal dan terus aktif dalam kegiatan sehari-hari. Ia tak perlu mengkonsumsi obat pengganti hormon.
Semoga tetap sehat buat Pak Yunanto.



Comments
Post a Comment