BERJUANG MELAWAN KANKER SAAT HAMIL DIHADAPKAN TUNTUTAN HARUS OPERASI MENGANGKAT RAHIM KARENA PROSES KEMO, TETAPI DIPERTAHANKAN HINGGA MELAHIRKAN DIBANTU ECCT

Bu Nurhayati didiagnosa kanker saat sedang hamil 2 bulan anak pertama. Setelah operasi pengangkatan payudara ia juga harus menjalani operasi pengangkatan kandungan agar bisa mengontrol aktivitas hormon yang merupakan faktor pemicu utama perkembangan kanker. Di masa kehamilan aktivitas hormon (estrogen dan progresteron) meningkat tajam, bisa memicu perkembangan kanker secara tak terkendali. Secara medis untuk bisa menolong nyawa ibunya, rahim harus diangkat, kandungan anak pertama yang baru usia 2 bulan tak bisa dipertahankan, dan ia tak bisa punya anak selamanya. Ia dihadapkan pada dilema yang sulit: Menyelamatkan ibunya atau dua-duanya kemungkinan tak bisa diselamatkan. 13 tahun kemudian Bu Nurhayati alhamdulillah baik-baik saja. Selain anak yang ada di kandungan saat itu, ada 2 orang anak lagi yang lahir dari kandungan sang ibu. Semuanya alhamdulillah sehat wal afiat.

Gambar: Foto Bu Nurhayati ketika mencapai 5 tahun sebagai survivor (2019), dan 10 tahun (2024), bersama anak-anaknya.

Pertengahan 2013 Bu Nurhayati sedang mengandung anak pertama. Usia kandungan baru memasuki bulan kedua ketika didiagnosa kanker oleh dokter yang memeriksanya. Ia kemudian menjalani operasi mastektomi. Hasil patologi anatomi (pemeriksaan sel) menunjukkan tipe ganas (Non-Special Type (NST), Grade 3). Karenanya ia juga harus menjalani serangkaian kemo.

Tidak berhenti di situ, selain kemo setelah operasi pengangkatan payudara ia juga harus melakukan operasi pengangkatan rahim, karena khawatir bahwa lonjakan hormon selama kehamilan akan membuat kanker tumbuh lebih agresif. Pemicu perkembangan kanker payudara umumnya adalah hormon yang tinggi yang berasal dari rahimnya. Apabila aktivitas hormon tak bisa ditekan, perkembangan kanker bisa tak terkendali. 

Pengangkatan rahim berarti menggugurkan kandungan, dan kandungan yang sedang ia jalani adalah anak pertamanya. Kalau dilakukan pengangkatan rahim yang sedang mengandung anak pertamanya artinya ia tak akan pernah mempunyai anak untuk selamanya. Secara prosedur medis tidak ada pilihan lain. Prosedur kemo dan radiasi harus ditunda sampai janin lahir apabila ingin mempertahankan kandungan, sementara jenis kankernya yang agresif (grade 3) tak bisa menunggu. 

Ia dan suaminya menghadapi dilema yang berat. Bukan hanya harus bertarung melawan waktu menghadapi kanker dengan tingkat keganasan tinggi yang bisa mengancam nyawanya, ia juga dihadapkan pada tantangan harus mengorbankan janin yang masih di dalam kandungan, anak pertamanya.

Kehamilan secara bersamaan saat sedang menjalani pengobatan kanker memang bisa berefek pada perkembangan kanker secara tak terkontrol, terutama pada kasus kanker payudara dengan reseptor hormon positif, melalui perubahan hormon dan kondisi fisiologis tubuh selama masa mengandung.

Lonjakan hormon seperti estrogen, progesteron, dan insulin-like growth factor 1 (IGF1) selama kehamilan dapat menstimulasi proliferasi atau pertumbuhan sel payudara, termasuk sel kanker khususnya pada kanker payudara yang memiliki reseptor hormon positif.

Hormon progesteron pada masa kehamilan dapat mengaktifkan jalur tertentu seperti reseptor RANKL yang mempersiapkan payudara memproduksi ASI, proses ini berpotensi membuat pertumbuhan sel kanker menjadi lebih progresif.

Perubahan fisik pada payudara selama hamil—seperti membesar, mengeras, atau terasa nyeri—sering kali membuat benjolan atau massa kanker sulit diraba. Akibatnya, kasus kanker payudara pada ibu hamil kerap terdiagnosis pada stadium yang lebih lanjut.

Perubahan sistem imun (imunosupresi alami agar tubuh tidak menolak janin) serta proses involusi jaringan payudara juga dihubungkan dengan lingkungan mikro (microenvironment) tumor yang berbeda.

Di saat mengalami dilema berat itu, ia tahu kabar tentang ECCT, terapi listrik dengan voltase yang sangat rendah dengan tenaga batere yang sama untuk menggerakkan remote control TV. Alternatif yang paling memungkinkan untuk bisa melakukan terapi terhadap kankernya, tetapi masih bisa mempertahankan janinnya, tanpa kemo tanpa radiasi. 

ECCT sendiri saat itu masih dalam pengembangan, dan sedang mengalami kontroversi luar biasa di kalangan medis. Bu Nurhayati hanya mempercayai kisah Bu Suwarni, orang yang pertama pemakai alat ECCT yang dibuat oleh Dr. Warsito, adiknya. Bu Suwarni juga melakukan mastektomi dulu sebelum pakai alat ECCT. Tipe kanker yang dialami oleh Bu Suwarni juga sama, NST Grade 3. Karenanya tanpa banyak berpikir ia bersama suaminya memutuskan untuk mengambil alternatif itu.

Bu Nurhayati memutuskan untuk membatalkan jadwal operasi pengangkatan kandungannya, juga jadwal kemonya. Ia memilih menjalani perjuangannya melawan kanker dengan alat ECCT, sambil terus mempertahankan kehamilannya, hingga melahirkan. 

Untuk kasus terapi medan listrik dengan ECCT saat kehamilan, sebelum kasus Bu Nurhayati sudah ada contohnya, walapun umumnya aman, alat ECCT dilakukan modifikasi khusus untuk memberikan perlindungan terhadap kandungan dengan pemasangan elemen yang memberikan efek "grounding" pada area rahim, sehingga seluruh area pelvis dibuat medan listrik menjadi netral, dan pemakaian alat umumnya dilakukan setelah usia kandungan melewati 4 bulan untuk menghindari efek intervensi (baik positif maupun negatif) terhadap pertumbuhan janin. 

Di masa awal-awal pakai alat progresnya tak begitu bagus, hasil scan aktifitas listrik sel menggunakan ECVT menunjukkan aktifitas yang terus meningkat, luka bekas operasinya juga tak kunjung mengering hingga masa melahirkan tiba. Tetapi ia tak berhenti terapi. Sampai akhirnya Bu Nurhayati melahirkan dengan selamat. Luka di bekas operasinya juga mulai mengering pasca melahirkan. beberapa titik di sekitar bekas jahitan yang sempat ada kemunculan lagi juga menghitam, mengering dan rontok.

1 tahun sejak pertama kali ia memakai ECCT kankernya bisa dibilang baru bersih. Berbeda dengan kasus Bu Suwarni yang mencapai bersih dalam waktu 2 bulan. Kemungkinan pada kasus Bu Nurhayati disebabkan oleh aktifitas hormon tubuhnya tinggi karena kehamilan. Aktifitas hormon adalah salah satu faktor yang krusial yang menghambat terapi kanker payudara pada umumnya, termasuk terapi dengan alat ECCT. Faktor hormon tubuh sepertinya cukup berpengaruh pada proses terapi kankernya, tetapi untuk kasus Bu nurhayati tidak sampai pada kondisi yang tak terkendali.

Perkembangan selanjutnya tak ada masalah bagi Bu Nurhayati. Kankernya tak pernah muncul lagi, tanpa kemo, tanpa harus mengangkat kandungannya. 5 tahun kemudian ia melahirkan anak kedua, disusul anak yang ketiga 2 tahun kemudian.

Studi terhadap data dan meta-analisis modern terbaru juga menunjukkan bahwa setelah sembuh dari kanker, kehamilan tidak memperburuk angka bertahan hidup (overall survival) atau meningkatkan risiko kekambuhan secara signifikan, selama kondisi pasien sudah dinyatakan stabil oleh dokter onkologi. 

Studi terbaru juga menunjukkan bahwa Jika kanker payudara terdiagnosis saat sedang hamil, tindakan operasi dan kemoterapi (pada trimester kedua atau ketiga) relatif aman dilakukan demi keselamatan ibu dan janin, sementara terapi hormon atau radioterapi biasanya tetap ditunda hingga setelah persalinan.

13 tahun sejak pertama kali diagnosa kanker payudara kondisi Bu Nurhayati sehat-sehat saja. Ketiga anaknya juga sehat-sehat. Ia masih menggunakan alat ECCT untuk preventif. 

Semoga tetap sehat buat Bu Nurhayati sekeluarga (WS).

Comments